Bermakna
Murid membaca sesuatu yang ada gunanya untuk dirinya, bukan deretan kata yang dihafal lalu dilupakan.
Fase A Bisa Membaca — program membaca untuk murid kelas 1 dan 2 yang menjadikan seluruh lingkungan sekolah dan sekitarnya sebagai bahan bacaan.
Program ini tidak berangkat dari keinginan membuat sesuatu yang baru. Ia berangkat dari temuan yang tidak nyaman diakui: ada murid kelas 6 yang belum lancar membaca, belum memahami apa yang dibacanya, dan menunjukkan minat belajar yang rendah.
Temuan itu diperkuat Rapor Pendidikan sekolah. Kemampuan literasi dan numerasi murid berada pada kategori sedang dan menurun dibanding tahun sebelumnya, dengan numerasi sebagai indikator yang paling perlu ditingkatkan. Di sisi lain, keamanan dan kebinekaan sekolah berada pada kategori baik dan terus naik.
Sekolah yang aman dan rukun adalah modal yang berharga. Tetapi modal itu belum berarti banyak selama muridnya belum bisa membaca dengan paham.
Data diambil dari Rapor Pendidikan SD Negeri Krandon 4. Kami menampilkannya apa adanya, termasuk yang belum baik, karena perbaikan hanya mungkin dimulai dari pengakuan.
Masalahnya terlihat di kelas 6, tetapi sebabnya tidak lahir di sana. Murid yang belum lancar membaca di kelas akhir hampir selalu adalah murid yang fondasinya belum utuh sejak awal, lalu terbawa naik kelas demi kelas sambil menumpuk ketertinggalan.
Karena itu, setelah dimusyawarahkan bersama kepala sekolah, dewan guru, staf, dan paguyuban orang tua murid, kami memilih memutus rantainya di titik paling awal. Menangani satu murid kelas 1 yang tersendat jauh lebih ringan daripada memperbaiki satu murid kelas 6 yang sudah lima tahun tertinggal.
Murid Fase A dibagi ke dalam kelompok mahir dan kelompok juang. Pembagian ini bukan untuk memberi label, melainkan supaya pendampingan bisa berbeda sesuai kebutuhan, dan supaya tidak ada murid yang terlewat karena kelas berjalan terlalu cepat baginya.
Kelimanya berjalan terjadwal dan saling menyambung, dari ruang kelas sampai ke luar pagar sekolah.
Guru mengenalkan huruf vokal dan konsonan, melatih suku kata, menggabungkannya menjadi kata, sampai murid mampu membaca kalimat sederhana. Guru berkolaborasi dengan guru lain untuk bimbingan lanjutan.
Dipandu guru, murid berkeliling lingkungan sekolah membentuk barisan menyerupai kereta. Yang dibaca adalah tulisan yang memang ada di sana: papan petunjuk, papan nama kelas, papan visi misi, papan larangan, tag nama guru, merk motor, sampai nama jajanan pada bungkusnya.
Bacaan diperluas ke luar pagar secara terjadwal. Murid membaca di Puskesmas Pembantu Krandon, Kantor Kelurahan Krandon dan Cabawan, MDTA Nurul Islam, papan petunjuk lingkungan, banner iklan, serta papan nama toko dan warung.
Murid memanfaatkan laboratorium IT sekolah untuk memperlancar kemampuan membaca dengan bantuan aplikasi seperti SoliteKids, Educandy, dan Rumah Belajar, sehingga pengulangan tidak terasa membosankan.
Murid mengambil sendiri buku yang diminatinya, mencoba membaca satu sampai empat kalimat, lalu membacakan kalimat pilihannya di hadapan guru. Bobot kalimat ditambah mengikuti kemajuan tiap murid.
Anak tidak bisa dipaksa menyukai membaca. Yang bisa dilakukan sekolah adalah membuat pengalaman membacanya layak diulang.
Murid membaca sesuatu yang ada gunanya untuk dirinya, bukan deretan kata yang dihafal lalu dilupakan.
Bahan bacaan diambil dari benda dan tempat yang setiap hari murid lewati, sehingga membaca terasa berhubungan dengan hidupnya.
Kegiatan dikemas sebagai perjalanan, bukan sebagai ujian. Murid yang senang akan mengulang dengan sukarela.
Murid dibagi ke dalam kelompok mahir dan kelompok juang agar pendampingan sesuai kebutuhan masing-masing. Guru berkolaborasi lintas kelas untuk bimbingan lanjutan bagi murid yang memerlukan waktu lebih.
Kepala sekolah turut serta secara terjadwal, bukan hanya sebagai penanggung jawab di atas kertas. Ia menjadi mitra pendamping program sekaligus mengurus perizinan tempat-tempat yang dikunjungi melalui jalinan kerja sama.
Puskesmas Pembantu Krandon, kantor kelurahan, MDTA Nurul Islam, serta toko dan warung di sekitar sekolah bersedia menjadi ruang belajar. Kedekatan lokasi membuat kunjungan bisa rutin tanpa biaya transportasi.
FABiCa adalah satu langkah dari cara kami memaknai pendidikan dasar. Kerangka lengkapnya ada di halaman Tumbuh Terdidik.