Setiap pagi, ratusan langkah kecil memasuki gerbang SD Negeri Krandon 4. Sebagian masih malu-malu digandeng orang tuanya, sebagian sudah berlari mendahului teman. Di balik langkah-langkah itu ada satu hal yang sama: mereka sedang tumbuh, dan sekolah dipercaya untuk menemani prosesnya.
Sekolah dasar memegang peran yang tidak tergantikan. Di sinilah anak mengeja kata pertamanya, menghitung dengan jari, lalu perlahan memahami bahwa ilmu bukan sekadar hafalan. Di sinilah pula ia belajar mengantre, meminta maaf, membela teman yang diperlakukan tidak adil, dan menyelesaikan tugas meski sedang tidak ingin. Semuanya terjadi bersamaan, di ruang kelas yang sama, dalam enam tahun yang menentukan.
Kata terdidik sering dipersempit menjadi pandai. Padahal dalam bahasa kita, orang terdidik bukan sekadar orang yang tahu banyak, melainkan orang yang tahu bagaimana bersikap dengan apa yang ia ketahui. Pengetahuan tanpa adab belum bisa disebut terdidik, dan adab tanpa pengetahuan belum cukup untuk membekali anak.
Anak akan tumbuh dengan sendirinya. Enam tahun akan berlalu apa pun yang sekolah lakukan. Yang kami perjuangkan adalah arahnya, dan arah itulah yang kami sebut terdidik.